Penegasan Tauhid & Kepasrahan Takdir Ba'da Sholat
لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ، اللَّهُمَّ لَا مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ، وَلَا مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ، وَلَا يَنْفَعُ ذَا الْجَدِّ مِنْكَ الْجَدُّ
Lâ ilâha illallâhu wahdahû lâ syarîka lah, lahul-mulku wa lahul-hamdu wa huwa ‘alâ kulli syai'in qadîr. Allâhumma lâ mâni‘a limâ a‘thaita, wa lâ mu‘thiya limâ mana‘ta, wa lâ yanfa‘u dzal-jaddi minkal-jadd.
"Tiada tuhan selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya. Milik-Nya kerajaan dan pujian, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Ya Allah, tidak ada yang dapat mencegah apa yang Engkau berikan, dan tidak ada yang dapat memberi apa yang Engkau cegah, dan tidak bermanfaat kekayaan dan kemuliaan bagi pemiliknya di hadapan azab-Mu."
Ketuk tombol setelah selesai membaca doa ini.
Lihat silsilah sanad, perawi & syarah Nawawi
Keabsahan Dalil & Takhrij Hadis
HR. Al-Bukhari (No. 844), HR. Muslim (No. 593)
Menegaskan bahwa pembagian rezeki dan takdir semata-mata adalah kehendak Allah, bukan karena kekayaan atau jabatan semata.
"Kalimat 'wa lâ yanfa'u dzal-jaddi minkal-jadd' bermakna kekayaan atau keagungan duniawi seseorang sama sekali tidak dapat menolongnya dari ketetapan Allah."